Putu Hartana Wijaya adalah alumni Coaching Indonesia Edukasi yang kini tetap berprofesi sebagai coach dengan kredensial ACC dari ICF. Putu berdomisili di Bali, dan pada suatu kesempatan berkunjung ke Jakarta dan mampir ke markas kami, kantor Cipta Kreasi Mahardhika (CKM), tempat beroperasinya kegiatan-kegiatan dalam wadah Coaching Indonesia Edukasi.
Cerita Putu tentang awalnya dia menjadi seorang coach adalah di tahun 2012 berkaitan dengan dirinya sebagai karyawan bagian HR sebuah hotel. Kala itu ia mendapatkan ilmu coaching dari sebuah lembaga training tentang coaching di Kuala Lumpur, Malaysia. Keinginan menambah ilmu coaching tertunda beberapa tahun karena berbagai kesibukan, sampai ada kesempatan lagi ikut training mendalami ilmu coaching melalui program PCCP dari Coaching Indonesia. Itu terjadi pada tahun 2020.
Putu merasa beruntung bisa mengikuti program ini di saat yang tepat, yaitu saat pandemi Covid 19, sehingga pelatihan dilakukan secara daring, mengingat ia tinggal di Bali, sedangkan pelatihan tersebut dioperasikan dari Jakarta.
“Habis itu saya tidak menyia-nyiakan ilmu yang saya dapat itu dengan ikut lagi tahap berikutnya, Executive Coach Certification Program (ECCP) yang saya ikuti tahun berikutnya,” kata Putu.
Putu mengungkapkan lagi. “Begitu lulus jadi CPC (Certified Professional Coach) dan CEC (Certified Executive Coach) dari Coaching Indonesia Academy, saya langsung mendaftar menjadi anggota ICF,” ujarnya.
Tidak tanggung-tanggung, Putu mengikuti berbagai program yang ditawarkan oleh ICF, antara lain untuk menjadi coach untuk mahasiswa Shoolin University di India. Namun sayang, untuk diterima menjadi coach program ini, syaratnya harus sudah ACC (Associate Certified Coach).
Mengantungi 60 jam training Approved Coach Specific Training Hours (ACSTH) yang telah diakui oleh International Coaching Federation (ICF) merupakan jalan yang terang bagi Putu untuk meraih tingkatan berikutnya untuk menjadi seorang coach profesional bertaraf internasional. Incarannnya adalah menjadi ACC
Syarat demi syarat dipenuhinya. Untuk syarat jam coaching, Putu menyiasatinya dengan melakukan coaching kepada timnya di tempat kerja. Serta mengikuti program Global Peer Coaching Pune Chapter, lagi-lagi info yang ia dapatkan dari ICF. Satu demi satu, sehingga mencapai 100 jam.
Strategi lain lagi, semua kesempatan melakukan coaching di program ini direkamnya, tentu saja dengan persetujuan pasangan coachingnya yang bertindak sebagai klien.
“Rekaman itu selain menjadi modal ketika saya mentoring untuk menjadi ACC. Kemampuan coaching saya meningkat seiring dengan banyaknya sesi coaching yang saya jalankan. Selain itu sudah ada rekaman coaching yang saya tunjukkan kepada mentor saya kala itu, Mas M Nur Fannie Prasetyo.”
Putu mendapat lampu hijau untuk mengajukan diri mengikuti ujian untuk meraih ACC pada awal tahun 2022. Dan pada Maret 2022, ia pun menjadi ACC.
Kini mengejar level berikutnya, PCC (Professional Certified Coach) tidak terlalu diupayakan. “Saya mau saja jadi PCC, tapi maunya PCC yang berkualitas, jadi saya merasa lebih baik saya meningkatkan kualitas coaching saya dulu,” ujarnya. (TJ)
Linked-in Putu: https://www.linkedin.com/in/putu-hartana-wijaya-m-m-acc-02b88834/


Leave a Reply